Showing posts with label Bola. Show all posts
Showing posts with label Bola. Show all posts

Friday, March 31, 2017

Van Ginkel: Inzaghi Diintervensi di Milan

Van Ginkel: Inzaghi Diintervensi di Milan


Gelandang PSV Eindhoven Marco Van Ginkel mengungkapkan bahwa Filippo Inzaghi sepertinya mendapatkan intervensi saat menerapkan taktiknya di AC Milan.

Van Ginkel dipinjam oleh Milan dari Chelsea. Ia sempat bermain sebanyak 18 kali selama musim 2014-15.

Gelandang berusia 24 tahun tersebut kini mengenang masa-masanya saat berkarir di San Siro. Ia mengaku senang dengan perjalanan karirnya di klub tersebut.

Ia lantas berbicara soal pelatihnya saat itu, Inzaghi. Dikatakannya, Inzaghi sepertinya tak bisa leluasa menerapkan taktiknya karena ada pihak luar yang mengintervensinya.

“Saya senang dengan pengalaman (di Milan). Saya menjadi lebih dewasa. Inzaghi adalah manajer saat itu, dan ia tidak selalu mengalah. Ia membuat banyak keputusan (yang) tidak bisa dipahami siapapun. Sehari sebelum pertandingan, ia akan membiarkan Anda tahu jika Anda akan bermain atau akan dicadangkan," kenangnya pada Goal international.

“Jika saya memainkan dua pertandingan yang bagus berturut-turut, saya akan menjadi pemain pengganti (di) game ketiga. hal-hal seperti; tidak ada logikanya sama sekali, tentu saja ada agenda politik yang terlibat," cetusnya.

“Sebelum jeda musim dingin saya sudah memiliki perasaan saya akan bermain di seluruh musim. Tapi saya ditendang keluar tim dalam sebuah sesi latihan dan kemudian saya terpeleset dan kaki saya yang lain terkilir dan cedera," tandasnya. (gl/dim)

Sumber: bola.net

Monday, March 13, 2017

Cedera Kunihiro Yamashita Jadi Awal Petaka PBFC

Cedera Kunihiro Yamashita Jadi Awal Petaka PBFC



Cibinong - Musnah sudah mimpi Pusamania Borneo FC menjuarai Piala Presiden. Cedera Kunihiro Yamashita mengawali kekalahan telak PBFC dan Arema FC.

Usai sudah perhelatan Piala Presiden 2017. Arema jadi juara usai mengalahkan PBFC dengan skor telak 5-1. Laga ini memang seolah menjadi antiklimaks. Arema begitu mendominasi sepanjang pertandingan. PBFC, yang punya pertahanan terbaik di ajang ini, tak berdaya menghadapi serangan-serangan Arema hingga gawangnya kebobolan lima kali.

Pada babak pertama, PBFC sudah tertinggal 0-3. Arema pun kemudian menambah dua gol lainnya pada babak kedua, melalui Cristian Gonzales, yang mencatatkan hat-trick pada laga ini. PBFC sendiri hanya bisa memperkecil ketinggalan menjadi 5-1 melalui gol Firly Apriansyah.

Lantas, ada apa dengan PBFC sehingga begitu lemah pada laga pamungkas ini?

Cedera Kunihiro Yamashita Menghancurkan Kekokohan Lini Belakang PBFC

Pertandingan berjalan seimbang pada awal-awal laga. PBFC bahkan langsung memiliki peluang satu lawan satu di gawang Arema. Saat itu Rival Lastori mendapatkan umpan dari Reinaldo Elias. Hanya saja tendangannya berhasil dibendung kiper Arema, Kurnia Meiga. Bola liar yang disambar Reinaldo pun masih mampu dimentahkan Meiga.

PBFC memang bukan tanpa perlawanan pada laga ini. Mereka bahkan menurunkan skema permainan yang lebih menyerang. Jika pada leg kedua semifinal mereka menurunkan formasi 3-5-2 yang sering berubah menjadi 5-3-2, kali ini kesebelasan asuhan Ricky Nelson ini memainkan formasi dasar 4-2-1-3.

PBFC menyimpan empat pemain di depan saat bertahan untuk memaksimalkan skema serangan balik. Sementara double pivot yang diisi oleh Wahyudi Hamisi dan Asri Akbar ditugaskan untuk melindungi back four PBFC.

Skema ini cukup efektif merepotkan lini serang Arema. Apalagi kedua full-back, Diego Michiels dan Michael Orah, tak terlalu agresif dalam membantu serangan. Keduanya difokuskan menjaga pertahanan untuk mengantisipasi pergerakan duo winger Arema, M. Nasir dan Esteban Vizcarra.

Namun kokohnya lini pertahanan PBFC mulai goyah setelah insiden yang terjadi pada menit ke-23. Saat itu Kunihiro Yamashita melakukan duel udara yang justru membuatnya meringis kesakitan. Dua menit berselang, ia kembali mengalami benturan ketika menghadang Nasir. Benturan keduanya itu membuatnya tak bisa melanjutkan pertandingan digantikan Firly Apriansah.

Tak adanya Kunihiro inilah yang membuat lini pertahanan PBFC mulai mudah kecolongan. Kemampuan Firly dalam membangun serangan, keluar dari tekanan, antisipasi bola, covering Dirkir Glay, hingga duel-duel udara tak sebaik yang dimiliki Kunihiro.

Hal ini terlihat pada tiga gol pertama Arema. Sebelum terjadinya pelanggaran yang berbuah kemelut untuk Arema dan menghasilkan gol Hanif Sjahbandi, situasi ini diawali oleh sapuan Firly yang justru mengarah pada pemain Arema yang berada di pintu sepertiga pertahanan PBFC. Saat itulah pelanggaran terjadi, yang dieksekusi dengan baik oleh Adam Alis sehingga menimbulkan kekacauan di lini pertahanan PBFC. 

Sementara itu pada gol kedua, ia berada di posisi yang salah ketika Michael Orah mendapatkan tekanan dari Cristian Gonzales, akhirnya Orah yang panik memberikan bola pada Wawan Hendrawan yang justru meluncur ke gawangnya sendiri.

Pada gol ketiga, Firly tak berada di tempatnya untuk menghalau bola pertama umpan silang Felipe Bertoldo yang membuat Dirkir Glay tidak siap menyambut bola, yang kemudian bola liar berhasil dimanfaatkan Gonzales.

Gol keempat dan kelima Arema pun tak lepas dari buruknya antisipasi Firly terhadap pergerakan Gonzales. Pada gol-gol yang terjadi pada babak kedua ini Dirkir Glay terpancing untuk menjaga Esteban Vizcarra, sementara Firly bertugas mengawasi pergerakan Gonzales. Namun Firly selalu gagal dalam menghentikan upaya-upaya Gonzales.

Situasi-situasi tersebut tidak terjadi ketika Kunihiro masih berada di depan gawang Wawan Hendrawan. Ia selalu berada di dekat Dirkir Glay. Jarak keduanya yang dekat dimaksudkan untuk saling mengisi ketika salah satu di antara mereka berhasil dilewati oleh Gonzales. 

Kombinasi seperti ini memang merupakan senjata utama PBFC di jantung pertahanan. Bersama Dirkir Glay, Kunihiro membuat PBFC tak kebobolan hingga babak perempat final. Dan kokohnya duet ini sempat terlihat pada 25 menit pertama final ini, sebelum akhirnya Kunihiro Yamashita ditarik keluar karena cedera.

Risiko PBFC yang Bermain Terlalu Terbuka

Dalam skema 4-2-1-3 yang diturunkan PBFC, hal ini menunjukkan jika PBFC hendak mengincar gol cepat pada laga ini. Empat pemain terdepan yang jarang membantu pertahanan (Rival Lastori sesekali membantu pertahanan) dimaksudkan untuk memanfaatkan serangan balik melalui umpan-umpan panjang Asri Akbar.

Namun dengan empat pemain berada di depan, ini mengurangi jumlah pemain PBFC ketika bertahan; menyisakan dua gelandang bertahan dan empat bek sejajar. Sementara Arema selalu menyerang setidaknya dengan lima pemain, bahkan bisa enam atau tujuh pemain jika kedua full-back turut membantu penyerangan.


Ilustrasi ketika Arema menyerang

Gambar di atas menunjukkan situasi ketika Arema melakukan serangan. Gonzales wajib dijaga oleh salah satu di antara Dirkir atau Kunihiro (biasanya Dirkir). Sementara pemain lain masing-masing menjaga satu pemain. Karenanya akan bahaya jika Gonzales lolos dari kawalan Dirkir, Kunihiro melakukan tugasnya dengan baik tapi tidak dengan penggantinya, Firly.

Situasi di atas begitu sering terjadi. Agresivitas Adam Alis dan Felipe Bertoldo dalam membantu serangan pun membuat tekanan pada pemain PBFC semakin bertubi-tubi. Belum lagi Hanif Sjahbandi yang juga tak jarang merangsek hingga mendekati kotak penalti.

Sebenarnya tak hanya Firly yang cukup disoroti pada laga ini. Wahyudi Hamisi juga tak membuat tugas Asri Akbar di tengah lebih mudah. Sepanjang pertandingan, Asri harus terus mengawasi pergerakan Bertoldo ataupun Vizcarra yang bergerak ke tengah. Karena jika lepas, maka salah satu dari bek tengah-lah yang harus meng-cover dan ini kemudian menjadi bencana bagi PBFC seperti pada gol keempat dan kelima Arema.

PBFC memang benar-benar mengandalkan Asri Akbar pada laga ini. Selain bertugas menjaga kreator serangan Arema, ia juga merupakan kreator serangan PBFC melalui umpan-umpannya. Belum lagi tugasnya sebagai eksekutor bola mati, yang kemudian berhasil menciptakan umpan matang untuk Firly memperkecil keadaan.

PBFC sendiri sempat mengubah skema permainannya pada babak kedua. Asri agak diturunkan sejajar dengan Firly dan Dirkir. Hal ini dilakukan agar Asri lebih sering mendapatkan bola untuk kemudian memberikan umpan panjangnya.

Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk mengantisipasi ketidakmampuan Firly dan Dirkir dalam membangun serangan. Namun berkat pressing yang kerap dilakukan lini serang Arema, khususnya Gonzales, build-up serangan PBFC pun tak mampu berjalan dengan baik.

Kesimpulan

Laga final ini menjadi antiklimaks setelah Kunihiro Yamashita ditarik keluar karena cedera pada menit ke-26. Sejak saat itu, lini pertahanan PBFC langsung menjadi bulan-bulan lini serang Arema. Bahkan gol sudah tercipta tiga menit dan tujuh menit berselang ketidakhadiran Kunihiro di lini pertahanan PBFC.

Arema sendiri memang memiliki kemampuan untuk mengoyak jala lawan hingga lima gol dalam satu pertandingan. Hal ini pernah mereka lakukan pada leg kedua semifinal. Dengan rentetan Gonzales, di mana ia menjadi top skorer Piala Presiden dengan 11 gol, Arema pun menjadi kesebelasan dengan jumlah gol terbanyak, 18 gol. Arema memang layak juara

Sumber : https://sport.detik.com

Friday, March 3, 2017

Montella Bercita-cita Bawa Milan Finis di Atas Inter

Montella Bercita-cita Bawa Milan Finis di Atas Inter


Pelatih AC Milan Vincenzo Montella bertekad untuk bisa membawa Rossoneri finis di atas Inter Milan di klasemen Serie A musim ini.

Milan sempat tampil apik di awal musim ini. Bahkan mereka sempat mencicipi bagaimana rasanya masuk zona tiga besar klasemen, mendekati Juventus.

Di sisi lain, Inter kesulitan menemukan performa terbaiknya di bawah asuhan Frank De Boer. Bahkan akhirnya mereka terpaksa memecat pelatih asal Belanda itu dan menggantikannya dengan Stefano Pioli.

Setelah pertengahan musim, situasi mulai berbalik. Inter kian menanjak di bawah asuhan Pioli. Sementara itu Milan justru mengalami penurunan performa yang membuat mereka kalah dalam sejumlah laga.

Dari situlah, posisi Milan melorot sementara posisi Inter justru merangkak naik. Rossoneri saat ini ada di posisi ketujuh klasemen sementara Serie A dengan koleksi 47 poin. Sementara itu Nerrazurri berada di posisi enam dengan koleksi 48 poin.

Peluang Milan untuk menyalip rival mereka tentu terbuka lebar. Montella pun berharap di akhir musim ini Nerrazzuri finis di bawah tim asuhannya.

"Kita harus tidak boleh memikirkan Inter. Finis di atas mereka di klasemen akan jadi hal yang hebat. Kita harus bercita-cita untuk ini," serunya seperti dilansir Football Italia.

Hari Minggu (05/03) ini, Milan akan bersua dengan Chievo. Montella lantas memuji tim asuhan Rolando Maran tersebut. Ia menyebut tim tersebut mirip dengan Juventus.

"Chievo seperti Juve kecil karena mereka mengoptimalkan sumber daya mereka sama seperti yang dilakukan oleh Bianconeri," cetusnya. (foti/dim)

sumber : bola.net

Terkapar, Cristiano Ronaldo Absen Bela Real Madrid Lawan Eibar

Terkapar, Cristiano Ronaldo Absen Bela Real Madrid Lawan Eibar


 Madrid - Tidak ada Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale saat Real Madrid menghadapi Eibar pada lanjutan La Liga di Estadio Ipurua, Sabtu (4/3/2017). Dari trio BBC, hanya Karim Benzema yang bisa bermain.

Sedangkan dua nama lain menghilang dari skuat pertandingan. Ronaldo terkena cedera otot pada latihan. Sementara Bale terkena sanksi larangan tampil dua laga karena kartu merah saat menghadapi Las Palmas, Kamis (2/3/2017) dinihari WIB.


Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane akan pusing menghadapi situasi ini. Sebab, Alvaro Morata juga berhalangan. Alhasil, Zidane hanya memiliki Benzema, Lucas Vazquez, dan Mariano Diaz dalam upaya merobek gawang tuan rumah.

Sosok asal Prancis itu juga bisa menurunkan James Rodriguez, Marco Asensio, dan Isco Alarcon di lini depan.

Real Madrid wajib memenangkan pertandingan jika tidak mau tercecer dari persaingan juara. Mereka baru saja kehilangan posisi puncak klasemen sementara La Liga. Mereka kini tertinggal satu angka di belakang Barcelona.

sumber : http://bola.liputan6.com

Semifinal Piala Presiden: Persib Berharap Tuah Si Jalak Harupat

Semifinal Piala Presiden: Persib Berharap Tuah Si Jalak Harupat


Bandung - Sejak musim lalu, Persib Bandung menorehkan catatan apik ketika bermain di kandang sendiri. Hingga saat ini, Hariono dan kawan-kawan belum sekalipun menelan kekalahan.

Menghadapi Pusamania Borneo FC pada leg kedua semifinal Piala Presiden 2017 di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (5/3/2017), Persib berharap bisa mempertahankan rekor tersebut dan meraih kemenangan.

"Kita mempunyai rekor bagus ketika bermain di kandang dan kita ingin mempertahankannya dan meraih kemenangan agar bisa lolos kebabak final," ucap pelatih Persib Djadjang Nurdjaman.

Dukungan puluhan ribu bobotoh yang diprediksi bakal memenuhi stadion bakal membantu usaha Persib memetik hasil positif. "Penonton pasti akan menambah motivasi. Mudah-mudahan mereka jadi pelecut pemain," katanya.

General Coordinator Panpel Persib, Budhi Bram Rachman mengatakan sebanyak 27 ribu lembar tiket disiapkan panitia untuk laga tersebut.

"Alasannya karena ini laga hidup mati. Jadi diprediksi bakal menarik dan permintaan tiket juga banyak. Semoga kehadiran bobotoh menambah semangat Persib," jelasnya.

sumber : http://bola.liputan6.com

Monday, February 13, 2017

Mane Gagal Penalti, Rumah Keluarganya di Senegal Diserang Preman

Mane Gagal Penalti, Rumah Keluarganya di Senegal Diserang Preman



Penendang terakhir dalam sebuah adu penalti selalu mendapat dua nasib berbeda. Jika berhasil dan membuat timnya menang, ia akan dibanjiri pujian dan dinobatkan sebagai pahlawan.

Namun jika gagal, sang pemain akan dijadikan kambing hitam kegagalan tim dan bahkan mendapat respon tidak mengenakkan, Hal inilah yang dialami bintang Liverpool, Sadio Mane.

Beberapa waktu lalu kiprah Senegal di ajang Piala Afrika 2017 harus terhenti di babak perempat final usai Mane yang menjadi penendang terakhir babak adu penalti gagal mengeksekusinya menjadi gol. Senegal pun harus menyerah dari Kamerun.

Rupanya kegagalan Mane ini berimbas buruk bagi keluarga kampung halamannya, Malika. Rumah keluarga Mane di kota yang terletak dekat ibukota Dakar tersebut menjadi target perusakan sekelompok preman lokal. Hal ini memaksa keluarga Mane meninggalkan rumahnya.

Tak berhenti di situ, para preman ini pun kembali mengancam keluarga Mane yang kini menumpang di rumah paman Mane. Bahkan para penjahat ini sampai merusak mobil SUV seharga hampir setengah miliar rupiah yang dibelikan Mane untuk keluarganya.

"Mereka (preman) melampiaskan kemarahan terhadap mobilnya dan benar-benar merusaknya," ujar seorang sumber seperti dikutip Ghana Soccernet.

"Paman Mane dan keluarganya sudah melaporkan para preman ini ke polisi. Kami hanya bisa berharap mereka akan mendapat hukuman yang setimpal," lanjut sang sumber.

Mane menjadi pemain termahal Afrika ketika dibeli Liverpool dari Southampton senilai 34 juta poundsterling musim panas lalu. Harga mahal pemain 24 tahun itu ternyata sebanding dengan kontribusi besarnya bagi The Reds. (gs/pra)


sumber: bola.net

Resmi, Final Copa del Rey Digelar di Vicente Calderon

Resmi, Final Copa del Rey Digelar di Vicente Calderon



Teka-teki, perdebatan dan kontroversi seputar venue final Copa del Rey akhirnya berakhir sudah. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) sudah menggelar pertemuan khusus untuk membahas venue pertandingan itu, mereka akhirnya memutuskan untuk menggelarnya di Estadio Vicente Calderon.

Pertandingan final Copa del Rey musim ini mempertemukan Barcelona melawan Deportivo Alaves. Laga itu akan digelar pada 27 mei mendatang. Seperti biasa, kedua tim finalis diberikan kesempatan untuk memilih stadion netral yang akan dipakai untuk laga final itu nantinya.

Dari beberapa nama yang diajukan itu, ada sebagian yang menimbulkan kontroversi. keinginan Barcelona untuk mengangkat trofi di Santiago Bernabeu, kandang Real Madrid, menimbulkan perdebatan. Pihak Madrid pun langsung menegaskan penolakan mereka dengan ide itu karena stadion akan direnovasi pada saat final digelar.

Alaves menginginkan pertandingan digelar di San Mames. Alasannya sederhana saja, mereka jarang masuk final dan ingin fans mereka bisa nyaman datang ke stadion. Sebagai sesama tim asal basque, San Mames akan menjadi venue ideal mengingat tak ada rivalitas antara Alaves dengan Atheltic Bilbao. Namun rencana itu akhirnya harus batal karena stadion sudah terlanjur dibooking untuk konser Guns N 'Roses.

Barca dan Alaves juga mengusulkan Calderon. Namun rencana ini sempat mendapatkan penolakan dari fans Atletico Madrid. Bukan karena rivalitas atau semacamnya, fans Atleti cuma tidak rela pertandingan terakhir di Calderon digelar bukan untuk Atleti.

Stadion baru Atletico sudah hampir selesai dibangun dan akan bisa dipakai musim depan. Calderon rencananya akan dihancurkan dan fans Atleti ingin tim mereka yang menjadi yang terakhir bermain di sana. Sepertinya pihak RFEF dan Atleti sudah menemukan jalan tengah.

Kabarnya, Atleti akan menggelar pertandingan perpisahan dengan Calderon sebelum stadion itu diruntuhkan. Atleti mungkin akan mengundang klub tertentu untuk menggelar momen istimewa yang kemungkinan akan dilangsungkan pada pramusim itu.

Musim lalu pertandingan final Copa juga digelar di Calderon. Laga itu dimenangkan oleh Barcelona yang menghadapi Sevilla di partai final. (as/hsw)

sumber: bola.net

Timnas U-22 Segera Panggil Pemain untuk Seleksi Perdana

Timnas U-22 Segera Panggil Pemain untuk Seleksi Perdana



Tim pelatih tim nasional Indonesia U-22 sudah mengumpulkan sejumlah nama dari hasil scouting di Piala Presiden 2017. Nama-nama itu kemungkinan akan mendapat panggilan dari PSSI mulai 20 Februari mendatang.

Setelah tiba di Indonesia, pelatih timnas U-22, Luis Milla dan asistennya langsung bergerak mencari pemain di turnamen Piala Presiden 2017. Mereka terbagi ke dalam dua tim.

Milla dan satu asistennya Miguel Gandia pergi ke Malang. Di sana mereka menyaksikan laga antara Bhayangkara FC melawan PS TNI dan Arema FC kontra Persija Jakarta. Setelah itu mereka bergerak ke Bali.

Sementara Bima Sakti dan satu asisten Milla lainnya, Eduardo Perez memantau pemain di Bandung. Di sana mereka mengamati duel antara Persela Lamongan vs PSM Makassar dan Persib Bandung melawan Persiba Balikpapan.

Akhir pekan ini, hasil pencarian pemain itu akan segera disetorkan ke PSSI. Lalu, mereka akan mulai menyurati para pemain tersebut pada pekan depan.

"Pada 16 Februari kami akan mengevaluasi nama-nama pemain yang sudah terkumpul. Baik dari saya dan coach Milla. Setelah itu, 17 Februari sudah difinalisasikan," ungkap Bima.

"Nama-nama itu akan kami serahkan kepada PSSI untuk segera melakukan pemanggilan pemain. Mungkin 20 Februari PSSI sudah menyampaikan surat-surat pemanggilan kepada klub pemain yang bersangkutan," tandas Bima. (fit/pra)


sumber: bola.net

Thursday, December 22, 2016

LEGENDA: Zinedine Zidane, Akhir Pahit Karier Gemilang Sang Maestro

LEGENDA: Zinedine Zidane, Akhir Pahit Karier Gemilang Sang Maestro


Nama Zinedine Zidane akan terus dikenang sebagai salah satu maestro yang pernah menghiasi dunia sepak bola. Kemampuan olah bola serta perjalanan karier pemain dengan sapaan Zizou ini sangat luar biasa, meski harus berakhir pahit.

Mengawali karier profesional pada 1989 di klub kecil Prancis, AS Cannes, Zidane hanya butuh tiga musim sejak promosi dari akademi klub untuk membuat salah satu raksasa Ligue 1 saat itu, Girondins Bordeaux, kepincut memilikinya.

Pada 1992, Zidane hengkang ke Bordeaux. Empat tahun bersama Les marine et blanc, ia berhasil memenangi Piala Intertoto 1995 dan menjadi runner-up Piala UEFA 1995-1996 (kini Liga Europa) setelah kalah dari Bayern Muenchen di final.

Zidane tumbuh menjadi seorang playmaker hebat di Bordeaux. Kemampuannya dalam menggiring bola, melepaskan umpan, mempertahankan bola, serta aksi individu melewati pemain lawan adalah keahlian utama Zizou.

"Terkadang, saya tidak tahu apa yang memengaruhi permainan saya selama pertandingan. Terkadang, saya hanya merasa pindah ke dimensi berbeda untuk bisa melakukan umpan, mencetak gol, atau melewati pemain yang menjaga saya," ucap Zidane usai menjuarai Piala Eropa 2000.

Performa Zidane bersama Bordeaux sempat membuat beberapa klub Premier League tertarik memilikinya. Namun, adanya tawaran dari Juventus membuat Zidane memutuskan untuk hengkang.

Salah satu tujuan Zidane hengkang adalah untuk menjuarai Liga Champions. Kompetisi tersebut baru saja dimenangi Bianconeri pada 1995-1996.

Pada awal 1996-1997, Zidane resmi bergabung dengan Juventus. Pada musim tersebut, Zidane berhasil menjuarai Serie A, Piala Interkontinental (kini Piala Dunia Antarklub), serta membawa Juventus kembali tampil di final Liga Champions.

Kali ini Bianconeri berharapan dengan wakil Bundesliga, Borussia Dortmund. Dengan semangat membara, justru kekalahan 1-3 yang Zidane dapatkan. Dua gol Karl-Heinz Riedle dan satu dari Lars Ricken hanya mampu dibalas sekali oleh Alessandro Del Piero.

Musim berikutnya, 1997-1998, Juventus kembali tampil di final untuk ketigakalinya secara berturut-turut. Kali ini Bianconeri harus berharapan dengan Real Madrid untuk kembali mengukir prestasi.

Namun, sebiji gol Predrag Mijatovic untuk Los Merengues menjadi penentu kemenangan 1-0 Si Putih atas Si Nyonya Besar pada laga yang digelar di Amsterdam Arena itu.

Pada tahun itu, Zidane berhasil menyabet gelar pemain terbaik dunia versi FIFA atau yang kini dikenal sebagai FIFA Ballon d'Or.

Tetapi, pria kelahiran Marseille, 23 Juni 1972 itu berpikir tidak berjodoh dengan Liga Champions bersama Juventus. Zidane pun akhirnya menerima pinangan Real Madrid pada 2001 yang rela menebusnya dengan rekor transfer tertinggi dunia saat itu, 77,5 juta euro (sekitar RP 1,14 triliun).

Keputusan Zidane hengkang ke Real Madrid demi memenuhi hasratnya menjuarai Liga Champions ternyata tepat. Pada musim pertamanya, ia langsung berhasil menyabet gelar tersebut.

Bahkan, raihan trofi Liga Champions tersebut berhasil dipastikan berkat tendangan voli kaki kirinya untuk membawa Madrid menang 2-1 atas Bayer Leverkusen. Pemain Prancis berdarah Aljazair itu pun terpilih menjadi pemain terbaik pada laga tersebut.

Gelandang Real Madrid, Zinedine Zidane, melepaskan tendangan voli yang menentukan kemenangan timnya atas Bayer Leverkusen di final Liga Champions 2001-2002 di Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, pada 15 Mei 2002.DAMIEN MEYER/AFP
Gelandang Real Madrid, Zinedine Zidane, melepaskan tendangan voli yang menentukan kemenangan timnya atas Bayer Leverkusen di final Liga Champions 2001-2002 di Hampden Park, Glasgow, Skotlandia, pada 15 Mei 2002.
Kisah manis Zidane di level klub juga terjadi bersama tim nasional Prancis. Namun, alur ceritanya sungguh bertolak belakang.

Zidane pertama kali menjadi bagian timnas Prancis pada 1994. Ia dipercaya menjadi playmaker tim setelah Les Bleus tidak bisa memainkan Eric Cantona akibat sanksi selama satu tahun seusai melepaskan tendangan kung-fu kepada fans Crystal Palace saat membela Manchester United di Premier League.

Zidane memainkan laga debut bersama Prancis sebagai pelapis pada 17 Agustus 1994 menghadapi Republik Ceska. Ia berhasil mencetak dua gol pada pertandingan tersebut untuk menghindari Prancis dari kekalahan setelah sempat tertinggal 0-2.

Empat tahun kemudian pada Piala Dunia 1998 yang digelar di negaranya, Zidane berhasil menjadi penentu gelar juara dunia pertama bagi Prancis.

Zidane berhasil mencetak dua gol melalui tandukkan sebelum disempurnakan oleh sontekan Emmanuel Petit untuk membawa Prancis menang 3-0 atas Brasil pada partai final.


Gelandang tim nasional Prancis, Zinedine Zidane, bersama trofi Piala Dunia saat berhasil menjuarainya pada edisi 1998 di Stade de France, Saint-Dennis, Prancis, pada 12 Juli 1998.GABRIEL BOUYS/AFP
Gelandang tim nasional Prancis, Zinedine Zidane, bersama trofi Piala Dunia saat berhasil menjuarainya pada edisi 1998 di Stade de France, Saint-Dennis, Prancis, pada 12 Juli 1998.
Gelar juara dunia tersebut juga berhasil dilengkapi oleh Prancis dengan menjuarai Piala Eropa pada 2000 di Belgia-Belanda. Momen tersebut adalah puncak kejayaan sepak bola Les Bleus bersama Zidane.

Setelah sukses 'mengawinkan' dua gelar paling bergengsi tersebut, Prancis seakan tenggelam pada setiap gelaran turnamen besar antar-negara.

Pada Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang, sebagai juara bertahan, Les Bleus harus gugur pada fase grup karena gagal meraih satupun kemenangan, bahkan hanya untuk mencetak sebiji gol pun kontra Senegal, Uruguay, dan Denmark.

Zidane sempat memutuskan untuk pensiun dari timnas usai Prancis disingkirkan Yunani pada perempat final Piala Eropa 2004 di Portugal pada usia 32 tahun. Ia memutuskan untuk fokus bersama Real Madrid.

Hal ini membuat Prancis sangat kehilangan. Terlebih pada saat yang bersamaan, Les Bleus pun kehilangan beberapa bintang mereka, yaitu Bixente Lizarazu, Marcel Desailly, Claude Makelele, dan Lilian Thuram yang juga memutuskan untuk pensiun.

Kondisi ini membuat Prancis kesulitan untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Hingga pada akhirnya, Zidane memutuskan untuk kembali memperkuat Prancis pada putaran final dan berhasil membawa Les Bleus lolos hingga partai puncak menghadapi Italia.

Pertandingan ini adalah yang terakhir bagi Zidane. Sebelumnya, ia telah mengumumkan akan pensiun sebagai pemain ketika kontraknya bersama Real Madrid berakhir pada 2006.

Mengakhiri karier profesional dengan mengangkat gelar juara dunia sebagai kapten timnas tentu menjadi idaman semua pemain sepak bola. Zidane punya kesempatan besar untuk melakukannya.

Zidane berhasil membawa Prancis unggul terlebih dahulu melalui eksekusi tendangan penalti pada menit ke-7. Namun, Italia berhasil membalas melalui tandukkan Marco Materazzi pada menit ke-19. Skor imbang 1-1 pun bertahan hingga akhir waktu normal dan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Hingga pada menit ke-110, Zidane seakan mengubur hidup-hidup peluang dirinya dan tim untuk menjuarai Piala Dunia. Ia mendapat kartu merah setelah menanduk dada Materazzi hingga terjatuh akibat terpancing ucapan bek Italia itu yang menurut beberapa media mengucapkan kata-kata "kamu anak dari pelacur teroris" kepada Zidane.

Gelandang timnas Prancis, Zinedine Zidane (kiri), usai menanduk dada bek Italia, Marco Materazzi, hingga terjatuh ke tanah dalam pertandingan final Piala Dunia 2006 di Olimpiastadion, Berlin, Jerman, pada 9 Juli 2006.JOHN MACDOUGALL/AFP
Gelandang timnas Prancis, Zinedine Zidane (kiri), usai menanduk dada bek Italia, Marco Materazzi, hingga terjatuh ke tanah dalam pertandingan final Piala Dunia 2006 di Olimpiastadion, Berlin, Jerman, pada 9 Juli 2006.
Zidane yang sejak awal Piala Dunia 2006 berlabel sebagai pahlawan Prancis, sontak menjadi pesakitan. Banyak pihak yang simpatik kepada Zidane, tetapi lebih banyak lagi yang menghujat tindakan konyol sang maestro.

Pertandingan pun akhirnya dimenangkan oleh Italia setelah menang 5-3 melalui drama adu penalti. Rencana Zidane menyudahi perjalanan karier sebagai pemain dengan manis pun berakhir pahit.

Meski demikian, semua pencinta sepak bola akan selalu mengenang Zidane sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah ada di dunia. Pengakuan ini bahkan pernah meluncur dari mulut salah satu legenda terbesar sepak bola, Pele.

"Zidane adalah seorang master. Lebih dari 10 tahun (sepanjang karier Zidane) tidak ada pemain lain yang setara dengan dirinya dan ia telah menjadi pemain terbaik dunia," ucap Pele kepada Independent menanggapi pensiunnya Zidane.

Bisa dianggap sukses sebagai pemain, kini Zidane menapaki karier baru sebagai pelatih. Meski masih minim pengalaman, kini ia telah menangani tim sebesar Real Madrid dan sudah berhasil mempersembahkan gelar Liga Champions pada musim pertamanya, 2015-2016.

Penulis: Verdi Hendrawan
Editor: Aloysius Gonsaga
Sumber: Berbagai sumber
▲
Top